Mantap RS bhayangkara totalitas dlm pelayanan
TRANSPLUS.ID, Di negeri yang katanya demokratis ini, ada satu jenis pemimpin yang luar biasa unik—mereka punya “mental pemenang.” Bukan mental baja, bukan mental melayani, tapi mental yang sangat selektif dalam mendefinisikan siapa yang layak diperhatikan.
Begini cara kerja mereka: saat pemilu tiba, mereka sibuk mengumbar janji ke semua daerah. Semua daerah penting, semua rakyat berharga, semua punya masa depan yang cerah. Tapi, begitu pengumuman pemenang keluar, peta perhatian mereka tiba-tiba menyempit. Ajaibnya, perhatian itu hanya tertuju ke satu atau dua daerah saja—yaitu yang memberi suara terbanyak saat pemilihan.
Daerah-daerah ini, yang dulunya mungkin hanya sekadar titik di peta, tiba-tiba berubah menjadi pusat pembangunan. Jalanan diperbaiki kilat, sekolah direnovasi, pasar dibangun, dan subsidi mengalir deras. Sementara itu, daerah-daerah yang “kurang antusias” mendukung sang pemimpin hanya bisa gigit jari. Jalanan tetap berlubang, pembangunan infrastruktur minim dan anggaran tetap sekadar janji.
Yang lebih menarik, ketika pemimpin ini ditanya soal ketimpangan tersebut, mereka dengan percaya diri menjawab, “Kami fokus membangun daerah secara merata!” Sebuah jawaban diplomatis yang sebenarnya berarti, “Kami hanya peduli pada mereka yang mendukung kami dulu.”
Begitulah, di tangan pemimpin dengan “mental pemenang,” demokrasi bukan lagi tentang keadilan bagi semua, melainkan tentang siapa yang memilih siapa. Mungkin di pemilu berikutnya, alih-alih debat visi-misi, yang dibutuhkan hanyalah kompetisi mana daerah yang bisa menyumbang suara terbanyak—karena tampaknya, hanya itulah yang dihitung dalam “peta pembangunan” mereka. (Ydi)
Tidak ada komentar