3.500 Bibit Ditanam, Batola Deklarasikan “Gerakan Hijau” Lawan Polusi Plastik

waktu baca 2 menit
Senin, 9 Jun 2025 12:52 beritatrans

TRANSPLUS.ID, Marabahan – Deru langkah menuju lingkungan yang lebih lestari mulai ditapaki Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Batola). Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, pemkab setempat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menanam 3.500 bibit pohon seraya mencanangkan “Gerakan Barito Kuala Hijau”, Kamis (5/6), di area Long Storage, Marabahan.

Tak sekadar seremoni tahunan, aksi ini sekaligus menjadi seruan lantang: “Ending Plastic Pollution”, atau hentikan polusi plastik—tema global yang diangkat tahun ini.

Wakil Bupati Barito Kuala, Herman Susilo, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan bahwa gerakan ini bukan hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran kolektif. Polusi plastik, katanya, bukan sekadar masalah kebersihan, tapi krisis lingkungan dan kesehatan global yang menuntut aksi nyata.

> “Plastik bisa masuk ke rantai makanan dan mengendap dalam tubuh manusia. Ini bukan ancaman masa depan—ini ancaman sekarang,” tegasnya.

 

Dari Sungai Hingga Sekolah

Sebaran bibit telah dirancang strategis. Ribuan bibit trembesi dan mahoni akan menghijaukan berbagai titik:

1.000 bibit untuk sekolah-sekolah

300 bibit di bantaran sungai dan jalur utama Mandastana-Alalak

500 bibit di komplek Batola Residen

200 bibit untuk Desa Sungai Pitung

Sisanya disebar ke kantor pemerintahan, SKPD, dan ruang publik lainnya di Kecamatan Marabahan.

Gerakan ini juga didukung belasan perusahaan dan lembaga, seperti PT Talenta Bumi, Bank Kalsel Marabahan, PT BUMA, PT TSMJ Group, serta mitra-mitra lain yang menunjukkan bahwa tanggung jawab ekologis bukan hanya tugas negara, tapi juga dunia usaha.

Batola, Paru-Paru Dunia yang Harus Dijaga

Wakil Bupati juga mengingatkan posisi Kalimantan, termasuk Kalsel, sebagai bagian dari “paru-paru dunia”. Oleh karena itu, kata dia, masyarakat harus menjaga hutan dan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan: ekonomi tumbuh, masyarakat sejahtera, dan alam tetap lestari.

> “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu gotong royong semua pihak: masyarakat, swasta, dan komunitas,” ucapnya.

 

Penanaman pohon ini juga menjadi bagian dari revolusi hijau nasional untuk menghadapi pemanasan global, menekan erosi, memperbaiki kualitas tanah dan udara, serta mengendalikan iklim.

Dengan aksi ini, Barito Kuala membuktikan bahwa langkah kecil yang konsisten bisa memberi dampak besar bagi bumi—dan masa depan anak cucu. Aa

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA