Ojol Palangka Raya Gelar Doa Bersama di Tugu Soekarno, Suarakan Keadilan dari Jalanan

waktu baca 2 menit
Kamis, 4 Sep 2025 15:27 beritatrans

TRANSPLUS.ID, Palangka Raya – Ratusan pengemudi ojek online (ojol) Palangka Raya menggelar doa bersama di Tugu Soekarno, Jalan S. Parman, Kamis (4/9/2025). Dengan lilin menyala dan kepala tertunduk, mereka mendoakan keselamatan serta persatuan, sekaligus mengenang rekan-rekan ojol yang meninggal dalam demonstrasi yang mengguncang sejumlah kota di Indonesia pada Agustus lalu.

Acara yang diinisiasi PKM Gojek Palangka Raya ini dimulai dengan registrasi peserta dan sambutan singkat, dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Ketua Aliansi Solidaritas Ojol Bersatu, Gandi Setiawan (akrab disapa Gandos). Doa bersama kemudian dipanjatkan, disertai hening cipta dan penyalaan lilin yang diiringi lagu perjuangan. Menjelang malam, kegiatan ditutup dengan penggalangan dana solidaritas dan pembubaran massa secara tertib.

Dalam pernyataannya, para ojol menegaskan arah tuntutan mereka. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diminta menegakkan hukum dengan menindak tegas pelanggar hukum, khususnya pelaku yg menyebabkan rekan mereka terluka dan meninggal dunia. Kejaksaan dan Kehakiman didesak menjatuhkan hukuman berat tanpa pandang bulu, terutama bagi pelaku korupsi. DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota dituntut agar lebih serius menjalankan fungsi representasi rakyat dengan transparansi dan keberpihakan pada masyarakat. Sementara itu, DPRD Kalimantan Tengah didorong untuk mendesak DPR RI segera mengesahkan UU Perampasan Aset.

Usai membacakan tuntutan, Gandos menyampaikan kepada media bahwa solidaritas ojol tidak boleh berhenti di acara ini saja. “Kami berharap solidaritas ojol tetap berjalan bukan hanya saat doa bersama, tetapi juga diwujudkan dalam peran aktif menjaga kamtibmas di Bumi Tambun Bungai,” ujarnya.

Pesan yang paling menggema malam itu dirangkum dalam satu kalimat tegas: “Hukum jangan pernah tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.”

Bagi para ojol, doa bersama ini bukan sekadar ritual, melainkan cara mengikat duka menjadi kekuatan bersama. Dari Palangka Raya, mereka menyalakan cahaya solidaritas di Tugu Soekarno—sebuah simbol perjuangan—dan menyuarakan harapan bahwa keadilan harus hadir nyata, hingga ke jalanan tempat mereka menggantungkan hidup

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA