Mantan Deklarator ISIS Indonesia: “Saya Dulu Lawan, Kini Saya Dukung Polri Wujudkan Kedamaian”

waktu baca 2 menit
Kamis, 19 Jun 2025 04:57 beritatrans

TRANSPLUD.ID, Surabaya — Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-79 tahun ini. Di tengah semaraknya apresiasi publik terhadap kinerja Polri, muncul suara yang tak biasa—datang dari seorang mantan “lawan” negara: Abu Fida Muhammad Saifuddin Umar, eks narapidana kasus terorisme yang pernah terlibat dalam penyembunyian tokoh teroris internasional, Dr. Azhari dan Noordin M. Top, serta dikenal sebagai salah satu deklarator ISIS Indonesia.

Dalam pernyataan terbukanya, Abu Fida menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap transformasi Polri, khususnya dalam pendekatan deradikalisasi dan pemulihan keamanan nasional.

“Saya pernah berada di sisi yang kelam. Kini saya menyaksikan sendiri bagaimana Polri tidak hanya menjadi alat negara, tapi juga menjadi garda terdepan penjaga kedamaian rakyat. Dirgahayu Polri ke-79. Semoga terus humanis dan profesional,” ungkap Abu Fida.

Dari Jejak Kelam Menuju Cahaya Damai

Nama Abu Fida bukan nama asing dalam sejarah terorisme di Indonesia. Ia pernah menjadi bagian dari jaringan bawah tanah yang menyembunyikan dua tokoh paling dicari dalam sejarah Densus 88: Dr. Azhari Husin, arsitek bom Bali, dan Noordin M. Top, pentolan JI yang bertanggung jawab atas berbagai aksi bom bunuh diri.

Namun setelah menjalani proses hukum dan pembinaan, pria ini kini berdiri di sisi berbeda. Ia tak lagi menyuarakan ideologi kekerasan, melainkan menyerukan perdamaian dan transformasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Abu Fida aktif mendukung program deradikalisasi serta terlibat dalam kegiatan pembinaan masyarakat bersama mantan kombatan lainnya.

Menurutnya, transformasi Polri yang kini semakin mengedepankan pendekatan persuasif dan restoratif dalam penanganan terorisme telah membuka ruang dialog bagi para eks napi terorisme.

“Polri tak lagi semata-mata memukul, tapi juga merangkul. Ini hal besar bagi kami yang dulu tersesat,” ujarnya.

Deradikalisasi dan Penguatan Nasionalisme

Pernyataan Abu Fida bukan tanpa makna. Dalam studi terbaru oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), lebih dari 90% mantan napiter yang berhasil pulih dan kembali ke masyarakat menyebut keterlibatan Polri dalam deradikalisasi sebagai faktor kunci.

Selain itu, peringatan Hari Bhayangkara ke-79 tahun ini mengangkat tema besar tentang “Polri Presisi Menuju Indonesia Emas 2045”, menggarisbawahi pentingnya stabilitas keamanan dalam mendukung kemajuan bangsa.

Sinyal Perubahan

Pernyataan dukungan dari sosok seperti Abu Fida menjadi sinyal penting bahwa pendekatan keamanan nasional tak lagi bisa dilihat dari sisi represif semata. Keamanan yang kokoh harus ditopang oleh rekonsiliasi, pemulihan, dan penyembuhan luka sejarah.

“Dulu saya anggap Polri musuh. Hari ini saya justru melihat Polri sebagai pelindung. Saya berdiri untuk kedamaian, karena negara ini rumah saya juga,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA