Mantap RS bhayangkara totalitas dlm pelayanan
foto: hani Catatan : Hani, Pimpinan Redaksi TRANSPLUS. ID
Rapat pleno terbuka hasil perhitungan suara dan penetapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan 2024 di Kota Banjarmasin telah selesai digelar di Hotel Aria Barito, Senin (2/12/2024).
Pasangan H. Muhidin-H. Hasnuriyadi Sulaiman mengungguli pesaingnya Hj. Raidatul Jannah-Akhmad Rozanie dengan total perolehan 253.469 suara berbanding 28.335 suara. Di atas kertas, ini adalah kemenangan telak.
Namun, angka-angka ini menyimpan pertanyaan serius yang seharusnya tidak diabaikan.
Pertama, jumlah suara tidak sah mencapai 21.356, hampir 7,6% dari total suara. Angka ini lebih tinggi dibandingkan beberapa pemilu sebelumnya dan menimbulkan pertanyaan:
apakah ini sekadar kesalahan teknis atau cerminan ketidakpuasan publik terhadap pilihan yang tersedia?
Dalam demokrasi yang sehat, suara tidak sah semestinya minim. Tingginya angka ini mengindikasikan ada ruang kosong dalam keterwakilan politik yang harus segera diisi.
Kedua, partisipasi pemilih menjadi persoalan serius. Dengan daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 485.418, hasil pleno menunjukkan bahwa hanya sekitar 58% pemilih yang memberikan suaranya, dengan sebagian besar memilih golput.
Ini adalah tamparan keras bagi demokrasi di tingkat lokal. Pemilih yang absen bukan hanya soal kurangnya kesadaran, tetapi bisa jadi sinyal protes terhadap sistem politik yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan mereka.
Ketiga, dominasi salah satu pasangan calon di semua wilayah Banjarmasin juga layak menjadi perhatian.
Kemenangan besar memang menunjukkan popularitas, tetapi ketika pesaing tidak mampu mendekati, apakah ini berarti demokrasi memberikan kompetisi yang sehat? Demokrasi tanpa persaingan sejati berisiko menjadi alat legitimasi kekuasaan daripada arena penyelesaian gagasan.
Proses pleno yang berlangsung lancar adalah hal yang patut diapresiasi, tetapi transparansi teknis tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan demokrasi.
Demokrasi sejati adalah tentang keterlibatan aktif masyarakat, bukan sekadar angka di akhir proses.
Ke depan, ada beberapa hal yang harus menjadi fokus:
Meningkatkan literasi politik masyarakat, sehingga mereka dapat berpartisipasi secara efektif dan memahami dampak dari suara mereka.
Memastikan inklusivitas dalam proses politik, sehingga semua golongan masyarakat merasa terwakili.
Mendorong regenerasi politik, agar muncul kandidat baru yang membawa ide-ide segar dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Angka-angka hasil pemilu ini bukan hanya statistik, tetapi refleksi dari kondisi demokrasi kita. Jika persoalan-persoalan mendasar seperti suara tidak sah, rendahnya partisipasi, dan kurangnya kompetisi politik dibiarkan, kita berisiko mengubah demokrasi menjadi sekadar ritual prosedural tanpa makna.Demokrasi adalah proses, dan kita semua bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
1 tahun lalu
kalsel maju dan sejahtera harapan kami barataan