Mantap RS bhayangkara totalitas dlm pelayanan
TRANSPLUS.ID, SAMPIT – Di tengah kelangkaan Pertalite dan solar subsidi yang dikeluhkan warga, polisi justru menemukan praktik penimbunan BBM dengan modus yang makin rapi. Delapan mobil lawas diamankan jajaran Polres Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat sore (8/5/2026), karena diduga digunakan sebagai kendaraan pelangsir BBM subsidi.
Mobil-mobil tua itu ternyata bukan sekadar kendaraan biasa. Polisi menemukan sejumlah modifikasi tersembunyi mulai dari saluran tangki tambahan, mesin penyedot khusus, hingga kran penguras BBM yang dipasang di dalam kendaraan. Modusnya, BBM subsidi yang baru diisi dari SPBU langsung disedot kembali dari tangki menuju jiregen berkapasitas 35 liter yang disimpan di dalam mobil.
Praktik tersebut diduga dilakukan berulang kali untuk menampung Pertalite dan solar subsidi sebelum dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain membenarkan pihaknya telah mengamankan delapan kendaraan yang digunakan dalam aktivitas penimbunan BBM subsidi tersebut. “Sejauh ini ada delapan mobil yang sudah kita amankan,” ujarnya.
Penindakan dilakukan saat polisi menggelar patroli preventif disejumlah ruas jalan dalam Kota Sampit. Operasi itu dipimpin langsung Kapolres Kotim bersama personel Satlantas, Satreskrim, Sat Samapta, Sat Intelkam dan Sat Binmas.
Menariknya, kendaraan-kendaraan itu tidak ditemukan sedang mengantre di SPBU, melainkan dalam kondisi terparkir di pinggir jalan seperti ditinggalkan. “Beberapa mobil kami amankan di pinggir jalan. Saat ditemukan, mobil tersebut belum membawa BBM,” kata Resky.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan adanya modifikasi pada bagian tangki dan sistem saluran bahan bakar kendaraan. Bahkan, polisi turut mengamankan plat nomor polisi palsu yang diduga digunakan untuk mengecoh petugas saat berpindah-pindah SPBU.
Fenomena penggunaan mobil lawas seperti Toyota Kijang dan Isuzu Panther dalam praktik pelangsiran BBM subsidi sebenarnya bukan hal baru. Kendaraan jenis ini dinilai “ideal” bagi pelaku karena konstruksinya sederhana sehingga lebih mudah dimodifikasi.
Tangki kendaraan dapat dipasang saluran tambahan secara tersembunyi tanpa banyak sensor elektronik seperti mobil keluaran baru. Selain itu, khusus Isuzu Panther bermesin diesel dikenal irit, kuat menempuh perjalanan jauh, dan mampu membawa beban berat seperti jiregen BBM dalam jumlah banyak.
Tak hanya itu, sparepart kendaraan lawas juga murah dan mudah ditemukan sehingga biaya operasional lebih rendah. Mobil-mobil tua tersebut juga dianggap tidak terlalu mencolok di jalan, membuat aktivitas pelangsiran lebih sulit dicurigai masyarakat maupun petugas.
Harga unit bekas yang relatif murah juga menjadi alasan utama. Bagi pelaku, risiko kerugian dianggap lebih kecil jika kendaraan sewaktu-waktu disita aparat.
Polisi menduga para pelaku menjalankan modus bolak-balik mengisi BBM subsidi di sejumlah SPBU, kemudian memindahkan isi tangki ke jiregen menggunakan alat sedot khusus. BBM hasil penimbunan lalu dijual kembali dengan harga lebih tinggi kepada pengecer atau konsumen industri. (red)
Tidak ada komentar