Batu Menangis di Pedalaman Kalbar, Legenda Anak Durhaka

waktu baca 3 menit
Minggu, 3 Mei 2026 09:19 redaksi2

TRANSPLUS.ID, KALBAR — Di tengah bentang alam hutan hujan tropis yang masih lebat di Kalimantan Barat, tersimpan sebuah cerita lama yang terus hidup di tengah masyarakat. Warga setempat mengenalnya sebagai “Batu Menangis”, sebuah batu yang diyakini sebagai jelmaan seorang anak perempuan yang dikutuk menjadi batu karena durhaka kepada ibunya.

Legenda ini berkembang di sejumlah desa pedalaman yang berada di sekitar kawasan perbukitan dan hutan lindung, tidak jauh dari wilayah Taman Nasional Betung Kerihun. Hingga kini, cerita tersebut masih dituturkan secara lisan oleh para tetua adat dan orang tua kepada generasi muda.

Menurut kisah yang dipercaya warga, dahulu hiduplah seorang gadis cantik dari keluarga sederhana. Ia sering bepergian bersama ibunya yang telah renta. Namun rasa malu membuatnya enggan mengakui sang ibu di hadapan orang lain. Puncaknya, saat dalam perjalanan, ia secara terang-terangan menolak mengakui ibunya.

Hati sang ibu pun hancur. Dalam kesedihannya, ia memanjatkan doa, hingga perlahan tubuh sang anak mengeras dan berubah menjadi batu. Warga percaya, batu tersebut masih ada hingga sekarang dan dikenal sebagai Batu Menangis.

“Orang tua dulu bilang, batu itu bentuknya seperti manusia. Kadang permukaannya basah seperti ada air mata,” ujar Agus, salah satu warga Kapuas Hulu.

Secara geografis, Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tutupan hutan terluas. Akses menuju desa-desa pedalaman umumnya masih mengandalkan jalur sungai dan jalan tanah, dengan waktu tempuh yang bisa mencapai berjam-jam hingga berhari-hari. Kondisi ini membuat cerita-cerita rakyat seperti Batu Menangis tetap terjaga keasliannya karena tidak banyak terpengaruh arus modernisasi.

Selain itu, masyarakat di wilayah ini masih memegang kuat nilai adat dan kearifan lokal. Dalam tradisi setempat, lokasi yang dianggap memiliki nilai sejarah atau cerita leluhur biasanya dijaga dan dihormati. Tidak sedikit warga yang meyakini Batu Menangis sebagai tempat yang sakral, sehingga tidak boleh dikunjungi sembarangan.

Dari sisi ilmiah, fenomena batu yang tampak “menangis” dapat dijelaskan sebagai proses alami, seperti rembesan air tanah, embun, atau perubahan suhu yang menyebabkan permukaan batu terlihat basah. Namun bagi masyarakat, penjelasan tersebut tidak mengurangi makna dari cerita yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Legenda Batu Menangis juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Cerita ini kerap dijadikan sarana pendidikan moral bagi anak-anak, khususnya tentang pentingnya menghormati dan berbakti kepada orang tua.

“Sejak kecil kami sudah dengar cerita ini. Supaya kami ingat, jangan sampai jadi anak durhaka,” kata warga lainnya.

Dalam konteks budaya, kisah Batu Menangis menjadi bagian dari kekayaan folklor Kalimantan Barat yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat. Cerita ini juga memiliki kemiripan dengan sejumlah legenda di daerah lain di Indonesia, yang mengangkat tema serupa tentang anak durhaka sebagai pengingat moral.

Di tengah perkembangan zaman dan masuknya teknologi digital hingga ke pelosok daerah, legenda Batu Menangis tetap bertahan sebagai identitas budaya lokal. Ia tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga simbol yang mengikat hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai kehidupan.

Bagi masyarakat Kapuas Hulu, Batu Menangis bukan sekadar batu di tengah hutan. Ia adalah warisan cerita, pengingat tentang kasih sayang orang tua, serta bukti bahwa nilai-nilai luhur masih hidup di tengah derasnya perubahan zaman. (red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA